Belajar Sistim Simpan Pinjam Bersama Ibu Ibu Kalaodi

Hari Selasa, adalah hari pasar buat kaum ibu di Kalaodi. Sore, 13 Maret 2017, Ibu Aini dan Ibu Ramlia warga Lingkungan Golili nampak menjinjing keranjang yang terbuat dari anyaman bambu.

“Dari pasar, abis bajual tomat deng sayur lilin,” ujar Ibu Aini padaku.

Kami bersepakat, sore ini akan berkumpul untuk membincangkan sistim simpan pinjam bersama kaum ibu di kediaman Pak Ade, mantan RT Lingkungan Golili. Kaum ibu di lingkungan ini masih aktif menjaga tradisi anyaman yang berasal dari hasil hutan di sekitarnya.

Pemaparan materi untuk perempuan di Lingkungan Golili

 

“Ada anyaman yang dibuat oleh kelompok, itu hasilnya akan masuk ke kelompok. Ada juga yang dibuat pribadi, untuk dijual di pasar,” terang Ibu Dinda.

Pukul 15.00 WIT, kaum ibu mulai berkumpul. Ada 24 orang jumlahnya. Meski Nampak lelah, karena baru usai berjualan, mereka tetap antusias untuk menambah pengetahuan lewat belajar bersama tentang credit union (CU).

“Assalamualaikum ibu-ibu. Terimakasih sudah berkumpul bersama di rumah Om Ade ini. Saya Indah, dari WALHI Maluku Utara. Adakah yang bisa membantu saya menjelaskan, apakah di Golili atau Kalaodi pernah ada sistim simpan pinjam yang diikuti oleh ibu-ibu?” Tanyaku membuka pertemuan sore itu.

“Iya, pernah ada. Tapi di kelurahan. Dikelola oleh kaum bapak. Kemudian mati, dan kami para ibu akhirnya membuat kelompok arisan,” jelas Ibu Dinda.

“Ok, artinya sudah pernah ada pengalaman. Sebenarnya yang akan kita bahas sore ini, sama seperti koperasi, hanya skala kecil, dan namanya credit union, atau koperasi swadaya masyarakat, yang bergerak di bidang simpan pinjam. Jika di koperasi, ibu-ibu hanya bisa meminjam, namun di CU, dapat meminjam dan juga menabung.” Uraiku sedikit panjang.

Pertemuan sore itu berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Sajian kopi dabe, kopi yang dicampuri rempah, serta pisang goreng dan kacang menambah aroma semangat kami dalam proses dialog tanya jawab seputar sistim simpan pinjam.

“Ini bagus. Kalau arisan, kita hanya kumpul, lalu dapat dan dipakai habis. Hanya, sepertinya mesti kita diskusikan lagi di kelompok ibu-ibu, soalnya di Golili ini, kami telah punya tiga kali arisan. Ada arisan mingguan, bulanan dan arisan kelurahan.” Kata ibu Hadija di penghujung pertemuan.

Beberapa saat sebelum Adzan Magrib berkumandang, rumah Om Ade, tempat pertemuan dilaksanakan, sudah tak lagi ramai. Para ibu telah kembali ke rumahnya masing-masing melanjutkan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Harapannya, ke depan, credit union ini bisa mereka jalankan setelah didiskusikan lebih matang lagi di lingkungan Golili.

Diskusi dengan Ibu-ibu Lingkungan Kola
Diskusi dengan Ibu-ibu Lingkungan Kola

 

Keesokan harinya, Rabu, 14 Maret 2018, saat usai Shalat Isya, di lingkungan Kola, tepatnya di kediaman Om Sulfi, salah seorang tokoh adat Kalaodi, pertemuan dengan tema yang sama berlangsung juga dengan kaum ibu. Sebanyak 17 orang nampak hadir. Sementara di luar ruangan, para anak muda dan kaum bapak juga berkumpul, ingin terlibat mendengar perbincangan tersebut.

Selain berdiskusi soal credit union, di lingkungan Kola, dibincangkan juga soal produk-produk lokal yang dihasilkan oleh warga tempatan. Dipasarkan di mana, serta seperti apa teknik pengemasannya. Hampir semua ibu terlibat aktif dalam pembahasan.

“Barang ini bagus, hanya kalo di Kola, torang musti bacirita dulu dengan tong pe suami. Soalnya dorang yang bacari doi kong, hehehe.” Kata ibu Oji menegaskan soal pelaksanaan sistim credit union dengan dialeg lokal, yang dibenarkan oleh kaum ibu yang lain. Bagi mereka, hal-hal yang menyangkut pengelolaan keuangan, mesti dibincangkan bersama suami dalam pengambilan keputusan. Setelah itu, barulah mereka akan membincangkan diantara kelompok ibu-ibu.

Pertemuan berlangsung hingga larut. Di luar, langit penuh bintang. Kerlipan cahaya lampu Pulau Maitara dan Ternate nampak disela kabut tipis yang melayang di udara Lingkungan Kola, salah satu dari tiga lingkungan yang berada di ketinggian Kampung Kalaodi.* (Indah dan Ama)

Sebarkan
Close Menu