MEMPERKUAT KAPASITAS DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT KALAODI TENTANG PERHUTANAN SOSIAL

Kalaodi – Jumat, 23 Februari 2018. Bertempat di rumah Bapak Ade Rt 03 Lingkungan Golili, Kelurahan Kalaodi, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Maluku Utara (WALHI Malut) malakukan Focus Group Discussion yang diikuti oleh para bapak, ibu, dan pemuda yang berjumlah 30 orang. FGD ini dimulai pukul 08.00 WIT. Dengan tema ‘Penguatan Kapasitas dan Pengetahuan Tentang Perhutanan Sosial dan Lingkungan Hidup untuk Masyarakat Kalaodi’.

Penyampaian Materi Perhutanan Sosial Oleh Rudhi Rasyid

 

Yudhi Rasyid, sebagai fasilitator menyampaikan bahwa, ada kebijakan negara yang mendistribusikan 12,7 juta hektar kawasan hutan kapada masyarakat lewat skema perhutanan sosial. Dari ruang lingkup hutan sosial berupa hutan adat, hutan kemasyarakatan, dan lain-lain, masyarakat diberikan kebebasan untuk memilih skema hutan yang ingin di kelola.

Namun, harus memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan. Seperti harus ada peraturan Daerah, peta wilayah, ada kelompok pengelola hutan, dan harus membuat permohonan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Diskusi Bersama Warga Lingkungan Golili

 

“Dari syarat yang ditetapkan tersebut. Maka pengetahuan dan pemahaman bapak ibu terkait dengan perhutanan sosial ini sangat penting, agar supaya tidak menjadi masalah dikemudian hari,” jelas Yudhi.
Selain itu, Yudhi juga memberikan contoh-contoh dalam mengelolah skema perhutanan sosial yang akan dikelola oleh masyarakat.

Pada sesi diskusi, Bapak Ade mengatakan bahwa masyarakat Kalaodi sudah menjaga hutan secara berkelanjutan. Sistem pengelolaan utan yang berkelanjutan ini juga sudah diajarkan oleh orang tua mereka jauh sebelum ada sistem pengelolaan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Selain itu, Dia juga menawarkan agar skema hutan yang mereka kelola adalah skema hutan desa. Karena menurutnya, hutan desa yang paling pas di kekola di Kalaodi.

“Saya rasa hutan desa atau hutan adat juga bagus,” tawarnya.

Suasana Diskusi Peserta Dengan Fasilitator

 

Usai berdiskusi, masyarakat di Lingkungan Golili sepakat untuk mengelola skema hutan desa. Setelah merasa cukup dengan apa yang didiskusikan, fasilitator kemudian menutup diskusi dengan harapan FGD hari ini dapat menambah pengetahuan masyarakat.

Pada keesokkan harinya, kegiatan yang sama juga dilaksanakan di Lingkungan Kola Rt 02 yang bertempat di Rumah Anas Wahab, Ketua Karang Taruna Kalaodi. Kegiatan ini mulai pukul 20.00 WIT, dengan peserta sebanyak 35 orang.

Diskusi di Lingkungan Kola

 

Pertemuan malam ini tidak hanya membahas tentang perhutanan sosial. Namun warga juga membahas terkait dengan masalah tapal batas antara Kalaodi dengan Fabaharu.

“Selain masalah hutan lingdung, kami juga memiliki keresahan terkait dengan klaim kepemilikan wilayah kelola antara Lingkungan Kola dan Fabaharu tentang isu wilayah air terjun Nusagoyaba yang sebenarnya adalah wilayah Kalaodi. Tetapi di Klaim oleh Fabaharu dan menjadi wilayah mereka,” papar Simo Gam Golili, Bapak Sulfi.

Peserta Saat Mendengarkan Paparan Materi Tentang Perhutanan Sosial

 

Saat menutup diskusi, fasilitator memberikan saran agar warga membuat pertemuan internal antara Pemerintah kelurahan, Tokoh Adat, dan pemuda untuk melihat kembali batas-batas wilayah Kalaodi berdasarkan fakta sejarah dan warisan nenek moyang, kemudian dibuat secara tertulis. Agar Pemerintah Kelurahan Kalaodi memiliki peganggan terkait dengan batas wilayah.

Sebarkan
Close Menu