Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Anak-Anak

SORE YANG RIANG DI KALAODI

– Bermain Sambil Belajar Mengenal Alam –

Pondok Baca Folila, terbuat dari anyaman bambu, beratapkan daun woka, lebih mirip gazebo, berukuran sekira 4x3m, terletak di sepenggal bukit yang bisa melihat indahnya mentari terbit maupun tenggelam. Berdiri sederhana di bawah naungan pohon pohon cengkih dengan sejuta mimpi kaum muda Kalaodi.

Sore itu cerah. Sabtu, 17 Maret 2017, satu persatu siswa SD dan SMP menaiki tangga menuju Folila (Rumah Literasi) yang berada di Lingkungan Dola Kalaodi. Pukul 15.30 WIT, terkumpul 25 orang yang sebagian besar duduk di bangku sekolah dasar. “Tong mo barmain deng belajar lingkungan hidup,” kata Alfian, bocah dari Lingkungan Dola yang duduk di kelas empat SD.

Mereka duduk melingkar di dalam pondok, riuh penuh tawa dan cerita. Hasmarani (Ama) dari WALHI Maluku Utara, memulai dengan memperkenalkan diri sebagai pendamping belajar, yang kemudian diikuti oleh masing-masing anak dari perwakilan di tiga lingkungan. Ada yang lantang menyebutkan nama, ada pula yang penuh malu. Kesemuanya diawali dengan keceriaan.

“Apa itu lingkungan hidup?” Tanya Ama.

“Lingkungan Hidup itu Lingkungan Dola, Lingkungan Kola, Lingkungan Golili, Lingkungan Suwom,” jawab Agus salah satu peserta dengan tegas. Ia menyebut nama nama lingkungan yang ada di Kampung Kalaodi. Sontak mengundang tawa anak anak yang lain.

“Iya, benar. Lalu apa saja yang ada di ke-empat lingkungan itu? “Tanya Ama lagi, tanpa menyalahkan jawaban yang terlontar dari Agus.

“Ada manusia, ada rumah, ada mesjid, ada sekolah, ada pohon Pala, Cengkih, Durian, Ganemo, ada Kus-kus, Babi, Ular, Anjing, ada air, ada udara, ada tanah, ada gunung.”

“Semua benar. Tepuk tangan untuk semua. Sekarang kita bermain gajah dan Sapi,” seru Ama lanjut. Permainan ini untuk melatih daya rekam dan konsentrasi para peserta pendidikan lingkungan hidup.

Usai permainan, Ama melanjutkan cerita tentang air dan kegunaannya. Di Kalaodi, kebutuhan air sehari-hari masih mengandalkan air hujan. Hampir setiap rumah memiliki bak penampung air yang ukurannya sangat besar, tidak seperti rumah kebanyakan yang ada di kota. Salah satu sistim pertahanan yang sudah berlaku turun temurun.

“Bagaimana cara menjaga air?” Tanya Ama.

“Jangan buang sampah di barangka,” jawab Wati, salah satu peserta perempuan yang paling kecil.

“Jang potong pohon sabarang!”, Seru Sarif menambahkan dengan dialek lokal, sambil memamerkan kaos hijau WALHI yang dipakainya bertuliskan ‘Selamatkan Hutan Kita’.

“Tepuk tangan buat Wati dan Syarif. Nah, adik adik yang pintar, untuk menjaga air di Kalaodi, maka jangan buang sampah sembarangan, karena bisa merusak alam. Apalagi di sungai, itu bisa menyebabkan sungai kita ‘Luku Celeng’ di Lingkungan Golili menjadi kotor. Jangan menebang pohon serampangan, karena pohon adalah penyangga sumber air tanah. “Jelas Ama.

Bermain sambil belajar dan bernyanyi itu berlangsung selama dua jam. Saat kabut dingin mulai jatuh, dan senja memasuki penghujung, terdengar lantunan lagu yang dinyanyikan bersama oleh mereka tentang air yang dibuat oleh Kakak-kakak dari WALHI.

… Gunakan air sehemat mungkin,

Tak ada air kita sengsara,

Jagalah air jangan kotori,

Selamatkan bumi kita.

Satu satu, anak-anak itu kembali ke rumah masing-masing, setelah menyepakati kontrak belajar bersama-sama tentang lingkungan hidup. Folila kembali sepi dalam balutan kabut penuh mimpi generasi muda Kalaodi. *Indah

Sebarkan
Close Menu