Perempuan Gane Belajar Membuat Demplot dan Pupuk Organik

Minggu, 11 Maret 2018. Sesaat setelah sarapan pagi, ibu-ibu Desa Gane Luar berkumpul memenuhi jalan menuju lokasi demplot dengan membawa peralatan kerja seadanya. Pukul 09.00 WIT, sudah ada 20 orang yang berkumpul di lahan yang berukuran ± 1 Ha milik Kepala Desa Gane Luar yang dipinjamkan kepada kelompok PKK untuk dijadikan kebun demplot.

“Torang bagi kelompok, agar bekerja sesuai dengan tugas masing-masing supaya pekerjaan cepat selesai,” ujar Ibu Jamiah yang disepakati oleh ibu-ibu yang lain.

Lahan 1,5 Ha milik Kepala Desa Gane Luar yang sebagian dipinjamkan untuk lahan demplot ibu-ibu PKK gane Luar dan sebagian lagi untuk kebun desa. Foto by, WALHI Malut

 

Ada 4 kelompok kerja. Ada yang bertugas membersihkan lahan untuk menanam cabe, tomat, sayur sayuran, dan  lahan untuk pembibitan tanaman. Di bawah sinar lembut mentari pagi, kelompok-kelompok itu mulai bergotong royong membersihkan lahan. Nyanyian lala (pantun berirama khas Maluku Utara) yang dinyayikan merdu oleh mereka sambil bekerja yang disertai ketukan jerigen air pengganti tifa menjadi hiburan dan penyemangat.

Menjelang siang, pukul 12.00, saat sinar mentari panas membakar kulit, aktifitas bersih-bersih lahan pun selesai. Para ibu beristirahat sambil menikmati makan siang yang telah disiapkan bersama-sama.

Hari berikutnya, Senin, 12 Maret 2018 mereka melanjutkan belajar membuat pupuk organik, difasilitasi oleh Abdul Manaf dari WALHI Malut. Satu satu mereka menuju rumah milik Ibu Jamiyan, salah satu ketua kelompok kerja PKK Gane Luar yang digunakan sebagai tempat pelatihan.

Setelah menjelaskan maksud dari pelatihan ini, Jojo begitu sapaan Abdul Manaf memulai dengan proses pembuatan serta apa saja bahan-bahan yang perlu disediakan. “Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pupuk bisa dari buah-buahan busuk, sayuran busuk, air kelapa, sabut kelapa, bonggol dan akar pisang, nasi basi, gula pasir, kotoran hewan dan mikroba EM4” jelas Jojo saat memulai pelatihan.

Aktifitas ibu-ibu Gane Luar, membuat pupuk organik. Foto by WALHI Malut

 

Dia lalu menjelaskan cara mengelola bahan-bahan menjadi pupuk. Mulai dari proses penghancuran bahan-bahan, sampai dengan proses fermentasi. Selama pelatihan berjalan, ibu-ibu terlihat antusias.

“Kalau bahan-bahan (yang dibutuhkan) macam begini, berarti gampang, karena disini banyak bahannya dan torang tra perlu keluar uang banyak untuk membeli pupuk di lua,” ujar Ibu Astuti yang membuat semua peserta tertawa sambil membenarkan ucapannya.

Hari sudah semakin sore, rumah Ibu Jamiyah yang tadinya ramai dengan canda ibu-ibu, kini terlihat sepi. Mereka kembali ke rumah masing-masing dan melanjutkan pekerjaan rumah tangga.

***

Rabu, 14 Maret 2018. Pukul 09.00 WIT, Kegiatan serupa juga dilakukan oleh para Ibu di Desa Gane Dalam. Ada lahan setengah hektar milik Pak Alwi salah satu warga Gane Dalam yang dipinjamkan gratis untuk dimanfaatkan menjadi kebun demplot. Ada 20 orang ibu-ibu yang turun membersihkan lahan karena masih berupa semak-semak belukar. Tampak pula para bapak turut membantu. Setelah semua lahan bersih, mereka melanjutkan dengan menyiapkan bibit tanaman.

Aktifitas ibu-ibu Gane Dalam, membersihkan lahan milik Pak Alwi yang dipinjamkan untuk dijadikan lahan demplot PKK.

 

Keesokan harinya, Kamis 15 Maret 2018, bertempat di rumah Ibu Salma salah satu ketua kelompok PKK Gane Dalam, mereka kembali berkumpul. Seperti di Gane luar, mereka juga belajar membuat pupuk organik.

Saat semua bahan telah siap sesuai dengan petunjuk Jojo, mereka mulai dengan memotong bahan menjadi kecil-kecil lalu mencampur. Tak lupa pula menambahkan bahan EM4. Tersedia dua ember besar untuk menampung campuran.

“Kalau pupuk ini jadi, lalu bagaimana cara pakainya?” tanya Ibu Salma sambil mencampur bahan-bahan.

Aktifitas ibu-ibu Gane Dalam mencampur bahan-bahan yang telah selesai dicincang untuk bahan pupuk organik. Foto by, WALHI Malut

 

“Untuk takaran penggunaan 10 ml pupuk cair dicampur dengan 1 liter air, untuk pemakaiannya seminggu sekali atau 2-3 kali seminggu jika musim hujan” jelas Abdul Manaf, fasilitator dalam pelatihan ini.

Langit mulai gelap, pelatihan pun usai. Ibu-ibu berpamitan pulang ke rumah masing-masing dengan harapan pupuk yang mereka buat itu bisa berhasil agar digunakan untuk menyuburkan tanaman demplot mereka.

Aktifitas ibu-ibu Gane Dalam, setelah selesai membuat pupuk mereka kembali mendengarkan penjelasan dari fasilitator. Foto by WALHI Malut

 

Perempuan Desa Gane Luar dan Desa Gane Dalam yang terlibat dalam kegiatan ini adalah mereka yang sedari dulu melawan kehadiran Perusahaan Sawit PT. Gelora Mandiri Membangun (GMM) di Gane, anak Korindo Group asal Korea. Aktifitas pembukaan lahan yang dilakukan oleh perusahaan ini telah merampas wilayah kelola warga yang selama puluhan tahun dijaga dengan arif dan digunakan untuk menghidupi kebutuhan sehari-sehari keluarga termasuk pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak mereka. (*YR)

Sebarkan
Close Menu