TUK INDONESIA DAN WALHI MALUT MENGADAKAN PELATIHAN ADVOKASI KELAPA SAWIT DAN SEKTOR KEUANGAN UNTUK CSO DAN JURNALIS LINGKUNGAN DI MALUKU UTARA

Kamis, 13 September 2018. Transformasi Untuk Keadilan (TUK) Indonesia dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara, melakukan kegiatan pelatihan advokasi kelapa sawit dan sektor keuangan untuk CSO dan jurnalis lingkungan di Maluku Utara.

Hasmah Nento, Saat Memberikan Sambutan dan Sekaligus Membuka Acara Pelatihan

 

Kegiatan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan buat kawan-kawan CSO dan Jurnalis lingkungan dalam melakukan advokasi disektor perkebunan sawit, serta dapat mengetahui bagaimana cara pendanaan bank terhadap perusahaan-perusahaan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Pelatihan advokasi ini akan berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 13-14 September 2018. Bertampat di rooms meeting Muara Hotel. Peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 15 orang, terdiri dari CSO lokal dan juga jurnalis lingkungan.

Kegiatan dimulai pukul 10.00 WIT. Hasmah Nento, mewakili Direktur WALHI Malut, saat membuka acara, Ia mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan agar memberikan informasi dan pengetahuan tambahan buat kawan-kawan CSO dan Jurnalis lingkungan dalam melakukan advokasi, terutama pada sektor perkebunan kelapa sawit. Selain itu, kawan-kawan juga bisa mengetahui sejauh mana keterlibatan bank sebagai penyandang dana di perusahaan-perusahaan perusak lingkungan.

MuBarok Khalid, Saat Memberikan Sambukan Pada Pembukaan Pelatihan

 

Mubarok Khalid, salah satu staff dari TUK Indonesia, mengatakan bahwa informasi terkait dengan pendanaan bank disektor perkebunan sawit merupakan salah satu faktor penting untuk harus diketahui oleh CSO. Apalagi yang saat ini sedang melakukan advokasi dan pendampingan terhadap masyarakat terdampak. Karena dengan mengetahui informasi tersebut, kawan-kawan bisa tahu apa yang harus dilakukan. Begitu juga dengan kawan-kawan jurnalis lingkungan, informasi ini bisa menjadi informasi tambahan ketika membuat berita.

“Kami berharap, pelatihan yang kami buat ini, bisa membantu kawan-kawan ketika melakukan advokasi dilapangan,” kata Mubarok saat mengakhiri sambutan.

Sustainability advisor TUK Indonesia, Eva Maria, sebagai narasumber, mengatakan bahwa kebanyakan kawan-kawan saat melakukan advokasi, kebanyakan langsung aksi ketika mendapatkan informasi terkait dengan suatu masalah, tanpa mempelajarinya lebih dalam lagi. Oleh karena itu, pada pelatihan ini, akan dijelaskan bagaimana pendanaan bank terhadap perusahaan.

Menurutnya, pengetahuan dasar terkait dengan bank merupakan hal penting yang harus dipahami oleh kawan-kawan. Karena meskipun ini teori dasar, tapi sangat berpengaruh besar terhadap kerja-kerja advokasi CSO dan juga jurnalis lingkungan dalam menyajikan informasi.

“Pada pelatihan ini, kita akan memulainya dengan mengenal bank terlebih dahulu. Kemudian kita juga akan membahas apa-apa saja jenis banknya, bagaimana peren bank dan investor di sektor kelapa sawit, bagaimana bank menilai resikonya, mengapa bank harus mengadopsi kebijakan subtainability risks, dan bagaimana bank bisa diyakinkan untuk menggunakan pengaruhnya pada perusahaan sawit,” jelas Eva

Foto Bersama Peserta Dan Narasumber

 

Di sesi penutup, narasumber juga menjelaskan terkait dengan keuangan berkelanjutan. Dimana tujuan dari keuangan berkelanjutan yaitu untuk mendorong lembaga jasa keuangan mengimplementasikan praktik-praktik keuangan yang lebih rama lingkungan.
“Prinsip baru ini diharapkan dapat membantu Indonesia dalam menyeimbangkan target pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan,” tutup Eva. *

Sebarkan
Close Menu